BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pada
dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak
sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Remaja yang nakal
itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental
disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku
mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”.
Di Indonesia sudah banyak terjadi kasus kenakalan remaja seperti tawuran antar
pelajar, remaja yang hamil diluar nikah, remaja yang menkonsumsi narkoba dan
sebagainya. Tercatat jumlah kasus kriminal yang dilakukan anak-anak dan remaja
1.150 sementara pada 2008 hanya 713 kasus. Ini berarti ada peningkatan 437
kasus. Jenis kasus kejahatan itu antara lain pencurian, narkoba, pembunuhan dan
pemerkosaan. Hal ini disebabkan kurang tersedianya waktu orang tua untuk
mendidik anak, pengaruh lingkungan, pengaruh teman sepermainan serta faktor
kesenangan dari remaja sendiri.
Salah
satu agen yang berperan penting dalam pembentukan karakter anak adalah kelurga,
dimana keluarga adalah tempat sosialisasi pertama seorang anak. Keluarga
mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang
anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya. Keluarga yang
gagal memberi kasih sayang dan perhatian akan memupuk kebencian, rasa tidak
aman dan tindak kekerasan pada anak. Jika keluarga tidak dapat menciptakan
pendidikan, maka hal ini akan menyebabkan anak-anak terperosok.
Pentingnya
kajian tentang penanggulangan kenakalan remaja di harapkan dapat memberikan
solusi terhadap cara menangani kenakalan remaja dan di harapkan dapat menurunkan
angka kenakalan remaja dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, dalam makalah
ini saya akan membahas tentang penanggulangan kenakalan remaja melalui
pendidikan keluarga.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimanakah cara menanggulangi
kenakalan remaja?
2.
Bagaimanakah perananan keluarga
dalam menanggulangi kenakalan remaja?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk mengetahui cara menanggulangi
kenakalan remaja.
2.
Untuk mengetahui peranan keluarga
dalam menanggulangi kenakalan remaja.
D.
METEDOLOGI
Metode
yang saya gunakan untuk mengumpulkan data, yaitu saya menggunakan buku
literature, tehnik library research, web, internet dan segala sesuatu yang
mendukung dalam penulisan makalah ilmiah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KAJIAN TEORI.
1.
Tinjauan Tentang Kenakalan Remaja.
a.
Pengertian remaja.
Remaja berasal
dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.
(Haryanto, 2010) Istilah adolensence
mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional
sosial dan fisik .
Pada masa ini
anak mengalami perkembangan untuk kematangan fisik, mental, sosial, dan
emosional. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir
atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Ia berada
pada masa transisi.
Jadi masa
remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia
dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkatan orang-orang yang lebih tua
melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
(Elizabeth B. Hurlock, 1980) Transisi di masa remaja melibatkan sejumlah
perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. (John W. Santrock, 2007)
b.
Pengertian kenakalan remaja.
Kenakalan
remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana
yang dilakukan oleh remaja. (Haryanto, 2011) Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri
dan orang-orang di sekitarnya.
Menurut
Kartono, ilmuwan sosiologi “Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal
dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada
remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
Jadi, kenakalan
remaja atau juvenile delinquency adalah suatu perbuatan yang melanggar norma,
aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau
transisi masa anak-anak dan dewasa.
c.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan
remaja.
1)
Faktor eksternal :
a)
Keluarga (rumah tangga)
Hasil dari
beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak/remaja yang dibesarkan dalam
lingkungan sosial keluarga yang tidak baik atau disharmoni keluarga, maka
resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian
antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak yang
dibesarkan dalam keluarga sehat atau harmonis. (Ridwan Prasetyo, 2012)
b)
Sekolah
Kondisi sekolah yang tidak baik
dapat mengganggu proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat
memberikan “peluang” pada anak didik untuk berperilaku menyimpang. (Haryanto,
2012) Misalnya, kurikulum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama/budi
pekerti yang kurang. Dalam hal ini yang paling berperan adalah guru Agama, guru
PKN dan Bimbingan Konseling, meskipun semua elemen sekolah bertanggung jawab
atas perilaku anak di sekolah.
c) Kondisi masyarakat (lingkungan sosial)
Faktor kondisi lingkungan sosial yang
tidak sehat atau “rawan”, merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk
berperilaku menyimpang. (Haryanto, 2012) Lingkungan yang tidak sehat misalnya
beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya
pornografis dan kekerasan. Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut
malambahkan sampai dini hari. Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan
terlarang lainnya.
2)
Faktor internal :
a)
Krisis identitas.
Pada tahun-tahun awal masa remaja,
penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting. Lambat laun mereka mulai
mendambakan suatu identitas diri. Identitas diri yang dicari remaja berupa
usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat, apakah
ia seorang anak atau seorang dewasa, dan sebagainya. Tetapi status remaja yang
mendua dalam kebudayaan yang menyimpang saat ini menimbulkan suatu dilema yang
menyebabkan krisis identitas atau masalah identitas-ego pada remaja. (Elizabeth
B. Hurlock. 1980)
b)
Kontrol diri yang lemah.
Remaja yang tidak bisa mempelajari
dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima
akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah
mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan
kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
d.
Cara menanggulangi kenakalan remaja.
Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam menanggulangi kenakalan
remaja, yaitu :
1)
Membangun hubungan spiritual dengan
Tuhan Yang Maha Esa.
Hubungan
spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah
ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.
2)
Mewujudkan ketentraman dan ketenangan
psikologis anak.
3)
Mewujudkan sunnah Rasulullah saw. (Abdurrahman
An Nahlawi, 1995)
Dengan mewujudkan sunnah Rasulullah
di dalam kehidupan membuat anak terbiasa dengan ajaran islam. Di zaman sekarang
ini, tanggung jawab keluarga untuk menanamkan sunnah Rasul terhadap anak
semakin penting mengingat banyak terjadi kenakalan remaja.
4)
Tumbuhkan pemahaman positif pada
diri anak sejak usia dini.
Salah satunya
dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk
dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka
lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara
langsung atau secara halus, dan seterusnya.
5)
Biasakan anak bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ingat pilihan
terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata
pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan
penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan
menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya.
6)
Berbuat secara bijaksana.
Tidak memaksa
anak untuk melakukan sesuatu ataupun membiarkan anak berbuat sesuatu, kecuali
sesuatu itu tidak membahayakan dirinya dan tidak menyimpang dari ajaran Islam.
7)
Memberikan pendidikan secara tegas
terhadap anak.
Dalam mendidik
anak orang tua harus mempunyai sikap tegas. Disinilah pentingnya orang tua
seiring dan sejalan mendidik anak.
2.
Peran Keluarga dalam Menanggulangi
Kenakalan Remaja.
Keluarga merupakan
institusi terkecil dalam masyarakat. Sedangkan masyarakat sendiri adalah
merupakan unit dalam membentuk negara. (Ridwan Prasetyo, 2012) Oleh karena itu, keluarga sangat berperan
penting dalam pembentukan setiap karakter anak. Karakter sebagai
kunci bagi sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga, pendidikan karakter
sejak usia dini merupakan hal yang penting bagi pembentukan karakter itu
sendiri.
Anak-anak akan
tumbuh dan dibesarkan di dalam rumah yang dibangun dengan dasar ketakwaan
kepada Allah akan membangun karakter yang sesuai dengan ajaran Islam. Keluarga
yang dilandasi kasih sayang dan ketentraman psikologis yang interaktif, anak
akan tumbuh dalam suasana bahagia, percaya diri, tenteram, kasih sayang, serta
jauh dari kekacauan, dan penyimpangan-penyimpangan sosial. (Abdurrahman An
Nahlawi, 1995),
Selain itu
faktor cara mendidik orang tua juga berpengaruh terhadap anak, orang tua yang
tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap
pendidikan anaknya membuat anak mengalami kesukaran-kesukaran menumpuk sehingga
mengalami ketinggalan dalam belajarnya dan menjadi malas belajar, dan anak
melakukan penyimpangan-penyimpangan sosial. (Slameto, 2003)
Peran keluarga
dalam menanggulangi kenakalan remaja diantaranya :
a.
Mendidik generasi yang memiliki
karakter sesuai ajaran agama.
Suatu keluarga
dikatakan sebagai keluarga kecuali apabila tergambar nilai-nilai hal telah
diajarkan dalam agama dan anak-anaknya dididik dengan pendidikan sesuai ajaran
dalam agamanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat at Tahrim ayat 6 yang berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Metode yang digunakan diantaranya : keteladanan,
mengajak dengan sikap bijaksana (hikmah) dan nasehat yang baik,cerita dan
pengalaman, hadiah dan hukuman.
b.
Menjaga adab berinteraksi terhapap
lingkungan, keluarga, dan masyarakat.
c.
Mendorong anak yang telah dibekali
dengan akhlak yang mulia untuk terjun dalam masyarakat.
Akhlak mulia itu terangkum dalam dua
hal yaitu menunaikan kewajiban dan memelihara hak.
d.
Mengarahkan anak untuk selalu
berprestasi dan kreatif.
Bukan hanya mendorong, akan tetapi juga mengarahkan dan memberikan
sarana yang dibutuhkan untuk memicu prestasi dan kreatifitas masing-masing.
e.
Mengarahkan anak untuk selalu
bertakwa kepada Tuhan.
f.
Membina hubungan baik antar
keluarga.
B.
KAJIAN FAKTUAL.
Belakangan ini,
kasus-kasus kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia menjadi sungguh sangat
memprihatinkan. Fakta dari Badan
Narkotika Nasional (BNN) tahun 2009 menyatakan bahwa 7% dari pelaku
penyalahgunaan Narkotik, Psikotropika, dan Bahan zat adiktif (Narkoba) dari
tahun 2001 hingga tahun 2008 di Indonesia adalah remaja berusia kurang dari
sembilan belas tahun. Disimpulkan pula bahwa, rata-rata kenaikan jumlah kasus
penyalahgunaan narkoba ini kurang lebih sekitar 2% tiap tahunnya. (Azul Grana,
2011) Bayangkan jumlah remaja di
Indonesia, mencapai kurang lebih 65 juta remaja, yang bisa hancur akibat
Narkoba dengan sangat cepat melihat fakta yang terjadi begitu memprihatinkan.
Selain kasus narkoba, tercatat hingga Juni 2009 ada 6332 kasus AIDS dan 4527
kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari
kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun. Sejak Januari
hingga Oktober 2009, Kriminalitas yang dilakukan oleh remaja
meningkat 35% dibandingkan tahun sebelumnya, Pelakunya rata-rata berusia 13
hingga 17 tahun. Remaja
kebanyakan sudah mengenal seks bebas, mereka tidak memperdulikan lagi
kehormatan dirinya. Kebanyakan remaja melakukan hal-hal negatif seperti ini karena alasan ingin coba-coba,
tidak mau dianggap culun oleh teman
sebayanya karena tidak melakukan hal yang dilakukan kelompoknya.
Relasi antar
anggota keluarga sangat berpengaruh terhadap anak, sering kali orang tua yang
berkelahi di depan anak-anaknya, membuat anak tertekan dan ketakutan. Orang tua
yang sibuk bekerja dari pagi sampai tengah malam untuk kehidupan anaknya,
kebanyakan orang tua lebih mementingkan pekerjaannya dari pada anak-anaknya.
Para orang tua pun rata-rata memiliki pembantu rumah tangga di rumahnya untuk
menjaga anaknya. Kesibukan orang tua membuat anak sulit untuk berkomunikasi
dengan orang tuanya dan sulit untuk mencurahkan kasih sayang terhadap anaknya.
Sebagian orang tua membiarkan anaknya kemana saja, sedikit perhatian orang tua
kepada anaknya karena kesibukan di tempat kerja. Ada juga orang tua yang
mengekang anaknya, tidak memberikan anaknya keluar rumah dengan alasan apapun.
Orang tua yang mengekang anaknya beralasan takut jika anaknya melakukan hal
yang tidak di inginkan.
C.
KAJIAN ANALISIS.
Berdasarkan kajian faktual di atas, saya akan menganalisa :
1.
Menjaga kehormatan diri.
Banyak studi yang yang
memperlihatkan bahwa harga diri cenderung menurun di masa remaja awal,
khususnya pada remaja perempuan. Para peneliti menemukan bahwa harga diri
sering kali mengalami transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah.
Sesungguhnya, selama dan setelah mengalami banyak transisi hidup, harga diri
individu sering kali mengalami penurunan. (John W. Santrock, 2007)
Menurut saya sebagai seorang mukmin
hendaknya kita menjaga kehormatan diri, tidak gampang terpengaruh dengan
hal-hal yang negatif, menjaga diri dapat dilakukan dengan senantiasa mengingat
Allah swt. Yang selalu mengawasi kita dalam keadaan apapun.
Disinilah peran keluarga sangat
diperlukan untuk memberikan pemahaman dini kepada anak, seperti menjelaskan
kepada anak tentang dampak dari seks bebas, menunjukan kepada anak ayat Al-Qur’an
yang menjelaskan tentang kewajiban menjaga kehormatan diri, dan
membentengi keimanan anak dengan kalimat-kalimat tasbih. Hal ini dapat mencegah
anak melakukan perbuatan yang negatif. Perintah untuk menjaga kehormatan
diri dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 33
Artinya : “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga
kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya….”
2.
Larangan menkonsumsi sesuatu yang memabukkan.
Kasus
pengggunaan narkoba pada remaja naik 2% tiap tahunnya. Narkoba adalah
obat-obatan terlarang yang memabukkan. (Azul Grana, 2011) Hukum menkomsusi
sesuatu yang memabukkan dalam Islam adalah haram, karena bisa membuat hilangnya
kesadaran. (Ahmad Sudardi, 2013)
Menurut saya
remaja menkonsumsi narkoba karena pengaruh dari temannya,
bisa juga karena masalah yang dihadapinya dirumah. Seperti orang tua yang
berkelahi, mendapat tekanan dari orang tua, dan merasa tidak diperhatikan.
Maka dari itu
peran keluarga sangat diperlukan untuk membentuk karakter anak yang sesuai
dengan ajaran Islam, menjaga keharmonisan dalam keluarga dapat memberikan
dampak positif pada anak. Selain menjaga keharmonisan dalam keluarga, orang tua
harus mampu memberikan gambaran kepada anak tentang hal-hal yang diharamkan
oleh agama dan dampak negatif dari hal itu. Salah satunya dengan cara memberi
tahu anak ayat yang menjelaskan di haramkan menkomsumsi sesuatu yang memabukkan
terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 219
Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi.
Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat
bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…”
3.
Relasi antaranggota keluarga.
Relasi antaranggota keluarga
berperan penting terhadap anak. (Slameto, 2003) Bila hubungan remaja dengan anggota
keluarga tidak harmonis, biasanya kesalahan terletak pada kedua belah pihak,
misalnya kesenjangan anatara anak dan orang tua mereka, hal ini disebabkan
karena adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar perilaku remaja, untuk
menghindari kesenjangan tersebut orang tua perlu menjaga relasi antaranggota
keluarga. (Elizabeth B. Hurlock, 1980)
Wujud relasi itu misalnya apakah
hubungan itu penuh dengan kasih sayang dan pengertian, ataukah diliputi oleh
kebencian, sikap terlalu keras, ataukah sikap acuh tak acuh dan sebagainya. Begitu
juga jika relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lain
tidak baik, akan dapat menimbulkan masalah kedepannya. Jika relasi antaranggota
tidak baik akan menyebabkan perkembangan anak terhambat, belajarnya terganggu
dan bahkan menimbulkann masalah-masalah psikologis anak yang membawa anak untuk
melakukan penyimpangan sosial. Orang tua yang berkelahi di depan anaknya dapat
membuat anak tertekan dan mengganggu psikologis anak.
Menurut saya, sebaiknya jika orang
tua mempunyai masalahan jangan menunjukkan di depan anaknya, berikanlah contoh
teladan yang baik bagi anak sehingga anak tidak melakukan hal-hal yang negatif.
4.
Pentingnya kasih sayang orang tua
terhadap anak.
Naluri menyayangi anak merupakan potensi
yang diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia dan binatang. (Abdurrahman
An Nahlawi, 1995) Allah menjadikan
naluri itu sebagai salah satu landasan kehidupan alamiah, psikologis, dan
social mayoritas mahkluk hidup. Keluarga sebagai faktor utama pembentuk
karakter anak bertanggung jawab untuk memberikan kasih sayang terhadap anaknya
karena kasih sayang merupakan landasan terpenting dalam pertumbuhan dan
perkembangan psikologis dan sosial anak. Jika anak tidak mendapatkan kasih sayang
dari keluarganya kehidupan bermasyarakatnya akan dicemari
penyimpangan-penyimpangan, anak akan sulit berteman atau bekerja sama.
Menurut saya dengan memberikan kasih
sayang terhadap anak, dapat mencegah anak melakukan penyimpangan sosial seperti
kenakalan remaja karena anak tidak kekurangan kasih sayang. Ayat yang
menjelaskan pentingnya kasih sayang keluarga terhadap anak terdapat dalam surah
Al-Anfal ayat 28
Artinya :” dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu
hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
5.
Pentingnya perhatian orang tua
terhadap anak.
Bagi seorang anak, perhatian dari
orang tua, memiliki arti yang sangat penting. (Rivai Silaban, 2012) Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya,
dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika anak kurang
mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan
akan timbul kekecewaan dan putus asa. Sekecil apapun perhatian orang tua
terhadap anaknya, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski hanya dalam
bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji sikap baiknya,
menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, sesekali menemaninya bermain.
Menurut saya perhatian orang tua
terhadap anak sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Bentuk
perhatian orang tua dapat berupa selalu mengkontrol anak. Memberikan nasihat
kepada anak, membimbing anak belajar di rumah, dan sebagainya. Ayat yang
menjelaskan pentingnya perhatian terhadap anak dijelaskan dalam surah An-Nisa
ayat 9
Artinya : “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang
seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
6.
Pentingnya komunikasi antar orang
tua dan anak.
Komunikasi adalah cara untuk
membangun ikatan yang kuat dengan orang-orang di sekitar kita, termasuk dengan
anak. (Mizan Dian, 2014) Dengan adanya komunikasi, bisa belajar memahami apa yang anak perlukan
dan atau inginkan. Pentingnya komunikasi orang tua dengan anak membuat orang
tua tau tentang apa saja yang dilakukan anak. Menyempatkan berkumpul dengan
anak membuat mudah orang tua untuk berkomunikasi dengan anak.
Cara membangun komunikasi dengan
anak dapat dengan cara memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak,
meluangkan waktu dan menjadi pendengar yang baik bagi anak, mendorong anak
untuk bercerita.
Menurut saya dengan menjaga
komunikasi dengan anak dapat membentuk karakter anak yang positif, kedekatan
orang tua dengan anak membuat anak merasa lebih dihargai. Hal ini dapat
mencegah anak melakukan hal-hal yang negatif. Komunikasi orang tua dengan anak
dijelaskan dalam surah Al-Luqman ayat 13
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar".
7.
Orang tua yang mengekang anaknya.
Orangtua sering menganggap terlalu
banyak ancaman di luar rumah. Tentu
pikiran seperti ini akan memengaruhi cara orang tua memperlakukan anak. Misalnya
orang tua yang mengekang anaknya. (okezone, 2011) Dari situ akan timbul sejumlah efek yang sangat
merugikan anak yang tak lagi bisa dikatakan remaja. Misalnya, mereka akan
kesulitan untuk bersosialisasi karena seringnya orang tua melarang remaja untuk
bermain, mereka akan lebih keras kepala,serta kurang bisa bertanggung jawab.
Menurut saya boleh saja orang tua
memberikan perhatian kepada anak, tetapi jangan sampai mengekang anak.
Mengekang anak dapat membuat anak merasa tertekan yang berpotensi anak
melakukan hal-hal yang negatif. Lebih baik orang tua dan keluarga memberikan
kebebasan bagi anak tetapi tetap mengawasi kegiatan anaknya. Dan memberikan
anak untuk mandiri.
D.
PEMECAHAN MASALAH.
Berdasarkan uraian diatas dapat di
ketahui bahwa penyebab kenakalan remaja berasal dari dalam diri remaja sendiri
maupun dari luar. Peran keluarga dalam menanggulangi kenakalan remaja sangat
penting. Keluarga dapat membentuk mental pribadi remaja yang baik dan kukuh
sehingga tidak mudah terombang ambing.
Tindakan nyata dalam menanggulangi kenakalan
remaja dapat di klasifikasikan menjadi dua tindakan yaitu ; tindakan Preventif
dan Kuratif. Tindakan Preventif
(Pencegahan) dapat dilakukan oleh orang tua agar anak dapat terhindar
dari krisis identitas diri dan lemahnya kontrol diri remaja
sebagai faktor internal penyebab kenakalan remaja maka orang
tua hendaknya menanamkan pendidikan mental pribadi pada anak melalui pengajaran
atau pendidikan agama dan memberikan contoh teladan yang baik kepada
anak-anaknya. Menanamkan rasa disiplin terhadap anak, dengan cara memberikan peraturan-peraturan
khusus kepada anak yang harus di patuhi .
Untuk menghindari kenakalan remaja yang di
sebabkan oleh faktor eksternal (dari luar diri anak) maka orang tua hendaknya mencurahkan kasih sayang dengan memberikan
perhatian khusus kepada anaknya sehingga mengetahui kesulitan-kesulitan yang
dialaminya. Komunikasi dengan anak dan hubungan yang harmonis tetap
harus dijaga.
Anak diberi kebebasan melakukan aktivitas dan berkreasi dalam berbagai
bidang, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang positif, namun orang tua tetap
harus memberikan pengawasan dan mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh anak di
luar rumah.
Jika kenakalan remaja telah terjadi maka tindakan
kuratif yang dapat dilakukan adalah orang tua
hendaknya mengadakan intropeksi sepenuhnya akan ke khilafan yang telah diperbuatnya
sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan. Memahami sepenuhnya latar
belakang terjadinya kenakalan yang menimpa anaknya. Meminta bantuan para ahli
seperti psikolog dalam mengawasi perkembangan kehidupan anak, apabila dipandang
perlu. Membuat
catatan perkembangan pribadi anak sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN.
Berdasarkan
uraian pada bab-bab terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Cara menanggulangi kenakalan remaja
yang paling utama adalah melalui pendidikan keluarga karena di lingkungan
keluarga anak pertama kali mengenal pendidikan, dan anak mendapatkan
nilai-nilai penting yang berguna bagi kehidupannya di masa akan datang.
2.
Keluarga sangat berperan penting
dalam menanggulangi kenakalan remaja yang disebabkan oleh faktor-faktor
internal maupun eksternal. Tindakan preventif (pencegahan) dapat dilakukan
dengan menanamkan pendidikan mental melalui pendidikan agama, dan contoh
teladan yang baik serta menanamkan rasa disiplin terhadap diri anak. Perhatian,
kasih sayang dan komunikasi dengan orang tua harus dijaga agar dapat terhindar
dari faktor eksternal yang menyebabkan kenakalan remaja. Adapun tindakan
kuratif yang dapat dilakukan adalah orang tua hendaknya mengadakan introspeksi
diri dan mengadakan kerja sama terhadap psikolog jika diperlukan.
B. SARAN.
1.
Bagi
Orang Tua.
Sebaiknya orang tua lebih memperhatikan anaknya, mencurahkan kasih sayang terhadap anak,
menjaga komunikasi dengan anak agar anak terhindar dari kenakalan remaja.
2.
Para
Pendidik (Guru)
Memberi gambaran kepada siswa, cukup banyak
permasalahan tentang salah pergaulan yang timbul diantara remaja. Oleh sebab
itu konsultasi dan penyuluhan tentang pergaulan yang baik dan benar sangat
diperlukan, dan kegiatan ini dapat berjalan dengan bantuan seorang guru.
3.
Para
Remaja.
Yang terpenting sebenarnya
adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan
benar sesuai tuntutan dan norma yang berlaku di dalam masyarakat dan juga ajaran agama. Agar kita dapat menjadi
remaja yang baik dan agar kita bisa menciptakan Negara dan bangsa yang sukses.
4.
Bagi
Masyarakat Umum
Bagi masyarakat umum
hendaknya ikut berpartisipasi guna pencegahannya. Apabila melihat hal-hal yang
tidak wajar yang dilakukan oleh masyarakat
khususnya para remaja segera laporkan ke penegak hukum setempat agar diberi
penyuluhan dan pengarahan.
C.
PENUTUP.
Demikian
yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini.
Saya
berharap para pembaca sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada
saya demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Grana Azul. Kenakalan Remaja di Indonesia, Dalam http://leo-meeth.blogspot.com
/2011/03/fakta-kenakalan-remaja.html, 2011.
Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta
: Rineka Cipta, 2003.
An Nahlawi,
Abdurrahman. Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta :
Gema Insani Press, 1995.
W. Santrock,
John. Remaja. Jakarta : Erlangga, 2007.
B. Hurlock,
Elizabeth. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga, 1980.