Rabu, 08 November 2017

INOVASI MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG



AUTO-STABILIZER SYSTEM OF QUALITY DISSOLVE OXYGEN (ASQUDO): PERANGKAT APLIKASI DO METER MENGGUNAKAN SENSOR O2 BERBASIS ANDROID DENGAN ANTARMUKA ARDUINO SEBAGAI PEMELIHARA KUALITAS OKSIGEN TERLARUT DI PERTAMBAKAN

Izzatun Navis1 ,Mochamad Khoirul Rifai2, Nisa Yuniar3, Rizal Fanany4
 1Pendidikan Matematika, 2Fisika,  3Pendidikan Luar Sekolah, 4Biologi
1Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,  3Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, , 4Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Jl. Semarang No. 5 Malang 65145 Jawa Timur

Abstrak. Kondisi pencemaran air di suatu perairan dapat diindikasikan dengan mengetahui keberadaan atau besar kecilnya muatan oksigen di dalam air. Air dikatakan tercemar apabila kualitasnya turun sampai ke tingkat yang membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya. Usaha pengembangan budidaya tambak yang sekarang dilakukan masih perlu penentuan strategi pengembangan budidaya yang sesuai dengan potensi dan kondisi wilayah pengembangan. Kadar O2 air dalam pertambakan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan ikan yang mengakibatkan jika terlalu rendah akan mengancam kematian ikan. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu perangkat aplikasi pemantauan atau monitoring serta sistem informasi mengenai kualitas air secara dini menggunakan sensor. Penulis menawarkan gagasan solutif untuk mendeteksi tingkat pencemaran air secara dini serta melakukan penanggulangan kadar oksigen yang terlalu rendah di pertambakan. ASQUDO merupakan sebuah perangkat aplikasi DO meter dengan menggunakan sensor O2 berbasis android dengan antarmuka Arduino. Aplikasi ini berbasis android pada Mobile dimana hasil pembacaan sensor akan divisualisasikan langsung pada layar Mobile serta dapat dihubungkan dengan Aerator untuk menjaga resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen di pertambakan.
Kata Kunci: Arduino, Mobile, Kualitas Oksigen terlarut, Sensor O2, Pertambakan

Abstract. The condition of water pollution in the waters can be indicated by knowing the existence or the quantity of oxygen charge in the water. The water is categorized as polluted if the quality decreases to the harming level so that water could not be used as its functions. The fishpond development that still need to be done by now is the determination of the appropriate cultivar development strategy to the potential development of the region and conditions. The O2 levels of the water in the fishpond influence the growth and the development of the fish which inflict in and if it is too low would threaten the death of the fish. Therefore it needs a monitoring application and a system which provides an information regarding the water quality as early as possible by the using of sensors. The authors propose an idea to detect the level of the water pollution early on and also doing prevention of the low of the oxygen levels in the fishpond. ASQUDO is a DO meter application by using O2 sensor android-based with Arduino interface. This android-based application on Mobile which the result of the sensor reading  will be visualized directly on the Mobile screen and can be connected with an Aerator to keep the recirculation and distribution of dissolve oxygen on fishpond. 
Keywords: Arduino, Mobile, the quality of dissolved oxygen, O2 Sensor, fishpond


1.      Pendahuluan
Oksigen merupakan salah satu unsur makronutrient yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan proses fisiologis maupun metabolisme di dalam tubuh organisme hidup (Mukti, dkk, 2003). Oksigen terlarut mempunyai arti penting dalam budidaya. Sumber utama oksigen di air tambak berasal dari aktivitas fotosintesis dan difusi udara ke dalam air. Oksigen terlarut bermanfaat untuk respirasi berbagai organisme perairan. Rendahnya kadar oksigen dapat berpengaruh terhadap fungsi biologis dan lambatnya pertumbuhan, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Fungsi oksigen di tambak selain untuk pernapasan organisme, juga untuk mengoksidasi bahan organik yang terdapat di dasar tambak menjadi bahan anorganik yang dapat dimanfaatkan.
Oksigen terlarut juga merupakan parameter kunci kualitas air (Hickling, 1971 dalam Mukti dkk., 2003). Tersedianya oksigen terlarut dalam air sangat menentukan kehidupan udang dan ikan. Oksigen terlarut dalam suatu perairan diperoleh melalui difusi dari udara ke dalam air, aerasi mekanis, dan fotosintesis tanaman akuatik. Sementara itu, oksigen terlarut dalam air dapat berkurang akibat adanya respirasi dan pembusukan bahan organik pada dasar perairan (Departement of Primary Industries and Resources of South Australia, 2003). Kualitas air dapat dilihat dari kadar oksigen yang larut di dalam air. Kebutuhan oksigen ikan dipengaruhi oleh umur, aktivitas serta kondisi perairan. Semakin tua dan semakin besar ukuran ikan, konsumsi oksigen semakin rendah (Fujaya, 2002)

Besar kecilnya muatan oksigen terlarut dalam perairan dapat mengindikasikan adanya pencemaran di perairan. Pencemaran air adalah penambahan unsur atau organisme laut kedalam air, sehingga dapat mengganggu pemanfaatannya. Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial, karena adanya gangguan oleh adanya zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih. Untuk menentukan status muatan  oksigen di dalam air perlu dilakukan pengukuran  besarnya BOD (Biological Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme, dan atau COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air. BOD adalah angka indeks oksigen yang diperlukan oleh bahan pencemar yang dapat teruraikan (biodegradable pollutant) di dalam suatu sistem perairan selama berlangsungnya proses dekomposisi aerobic. BOD juga dapat diartikan sebagai angka indeks untuk tolok ukur tingkat pencemar dari limbah yang berada dalam suatu sistem perairan (Asdak, 1995).

Hypoxia merupakan fenomena yang terjadi dalam lingkungan akuatik akibat adanya penurunan konsentrasi oksigen terlarut sampai batas yang dapat merugikan kehidupan organisme akuatik yang hidup di dalamnya (Free Encyclopedia, 2009). Hypoxia dapat terjadi pada perairan karena adanya konsumsi oksigen yang lebih besar dibandingkan dengan produksi oksigen. Kadar oksigen terlarut yang rendah dapat berpengaruh terhadap fungsi dan lambatnya pertumbuhan, bahkan dapat mengakibatkan kematian ikan (Mahasri, 2006).

Konsentrasi oksigen terlarut tergantung pada faktor fisika dan biologi. Beberapa faktor fisika yang mempengaruhi konsentrasi atau kelarutan oksigen terlarut dalam air antara lain suhu, salinitas, dan tekanan atmosfer. Adapun faktor biologisnya seperti kepadatan organisme perairan, karena semakin padat organisme perairan maka laju laju respirasi tersebut akan menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air (Schramm, 1997), dimana penurutnan konsentrasi oksigen terlarut hingga batas titik kritis akan menyebabkan hypoxia. Hypoxia terjadi pada konsentrasi oksigen di bawah 2mg/L.
Budidaya tambak di Indonesia mulai digalakkan sejak awal pelita IV. Menurut Nontji (1992) dalam Sari 2002, menyatakan bahwa beberapa hal yang merupakan masalah dalam pengembangan perikanan, diantaranya adalah pencemaran yang terjadi di perairan pantai akibat kegiatan manusia di daratan serta belum berkembangnya budidaya perikanan laut sehingga antara perikanan laut masih sangat bergantung pada hasil penangkapan. Kadar O2 air dalam pertambakan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan ikan yang mengakibatkan jika terlalu rendah akan mengancam kematian ikan.

Pada umumnya, hewan air perlu oksigen terlarut dengan konsentrasi 5.0 mg/L atau lebih untuk bisa hidup dan berkembang. Tetapi, jumlah kebutuhan oksigen bervariasi, tergantung seberapa besar hewan air tersebut, dan di mana hewan tersebut hidup.

Oleh sebab itu dibutuhkan suatu perangkat aplikasi pemantauan atau monitoring sistem informasi mengenai kualitas air secara dini menggunakan sensor serta sistem yang bisa menstabilkan kembali kadar oksigen terlarut pada pertambakan.

Menyiasati fenomena di atas penulis menawarkan gagasan solutif untuk mendeteksi tingkat pencemaran air secara dini serta melakukan penanggulangan kadar oksigen yang terlalu rendah di pertambakan. ASQUDO (Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen) merupakan sebuah perangkat aplikasi DO meter dengan menggunakan sensor O2 berbasis android dengan antarmuka Arduino. Aplikasi ini berbasis android pada Mobile dimana hasil pembacaan sensor akan divisualisasikan langsung pada layar Mobile serta dapat dihubungkan dengan Aerator untuk menjaga resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen di pertambakan. Sehingga petani tambak dapat mengetahui kondisi aktual dari tambak yang dikelolanya melalui mobile phone, dan memungkinkan petani tambak untuk mengelola tambaknya dari rumah. Selama ini belum ada sensor pendeteksi yang mampu menampilkan hasil secara langsung serta penjagaan resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen otomatis pada Mobile petugas yang berwenang. Sehingga solusi yang penulis tawarkan akan sangat bermanfaat untuk perkembangan inovasi teknologi dan membantu masyarakat mengetahui secara dini tingkat pencemaran air di pertambakan

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan peringatan dini akan pencemaran air atau kadar O2 dalam pertambakan serta berusaha untuk menjaga kualitas kadar O2 terlarut pada air dengan menggunakan teknologi yang sesuai. Sedangkan tujuan penulisan ini adalah untuk mendiskripsikan cara merancang Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO), menjelaskan konsep dan mekanisme kerja Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO), menjelaskan teknik implementasi dari Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO). Hipotesa yang penulis tawarkan merupakan gagasan yang akan menjadi sebuah terobosan baru dalam penanggulangan pencemaran air atau kadar O2 dalam air tambak khususnya bagi pengusaha hasil tambak di Indonesia.

2.      Metode Penelitian
Jenis Penulisan

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menurut Lexy J.Moleong yang mengutip pendapat Bogdan Taylor bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Arikunto, 1998:114).

Sesuai dengan definisi diatas, Krik dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya.

Penelitian ini adalah penelitian studi teks atau studi pustaka. Studi teks menurut Noeng Muhadjir mencakup: pertama, telaah teoritik suatu disiplin ilmu yang perlu dilanjutkan secara empirik untuk memperoleh kebenaran secara empirik pula. Kedua, studi yang berupaya mempelajari seluruh obyek penelitian secara filosofis atau teoritik dan terkait dengan validitas. Ketiga, studi yang berupaya mempelajari teoritik linguistic. Keempat, adalah studi karya sastra (Bungin, 2001:129).

Adapun  penelitian ini lebih dekat dengan jenis studi pustaka yang pertama dimana studi ini berusaha menelaah  perangkat aplikasi DO meter menggunakan sensor O2 berbasis Android dengan antar muka Arduino. Kedua studi ini berusaha menelaah Aerator sebagai resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen di pertambakan.

Fokus Penulisan

Fokus dalam penelitian ini adalah kadar O2  air dalam pertambakan yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan ikan. Menggunakan perangkat aplikasi pemantauan atau monitoring serta sistem informasi mengenai kualitas air secara dini menggunakan sensor.

Sumber Data

Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan. Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan (Sugiyono,2009).

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data yang digunakan sebagai bahan analisis didapatkan dari berbagai sumber antara lain:

a.    Studi Pustaka
Studi pustaka digunakan sebagai landasan teori dan pijakan penulis dalam menganalisis masalah yang dikaji. Studi pustaka didapatkan dari teori dan pendapat para ahli baik dari buku, jurnal, skripsi maupun hasil penelitian.

b.    Pengamatan
Hasil pengamatan terhadap permasalahan yang terjadi digunakan sebagai titik tolak terhadap pembahasan suatu masalah, dan mencari masalah mana yang paling penting sehingga layak untuk diangkat. Pengamatan ditujukan pada kasus konstruksi pemotong besi pada industri kecil yang jarang menggunakan pengaman/pelindung telinga pada proses kerja.

Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam karya tulis ini adalah deskriptif analitik, yaitu menganalisis permasalahan yang ada dari hasil pengamatan atau identifikasi dan studi kepustakaan tentang permasalahan serta hubungan antara masalah tersebut yang didasarkan pada suatu teori atau konsep keilmuan yang relevan. Peneliti mengangkat permasalahan-permasalahan yang terjadi mengenai pencemaran air di Indonesia. Berdasarkan karakteristik yang terdapat pada permasalahan tersebut, maka peneliti berusaha menggunakan metode pemecahan masalah yang sesuai dengan konteks permasalahan sebagai solusi yang efektif. Dengan menganalisis konteks masalah, peneliti mengangkat sebuah gagasan yaitu menciptakan aplikasi pendeteksi tingkat pencemaran air berbasis android. Penulis juga mensintesis gagasan-gagasan tersebut dalam penerapan aplikasi pendeteksi tingkat pencemaran air dengan pemerintah yang menganani hal tersebut sebagai pelaksana program untuk membantu dalam merealisasikan gagasan tersebut.
Gambar 2. Tahapan Penelitian


Tahapan Penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
3.      Hasil dan Pembahasan
Cara Merancang Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO) sebagai Perangkat Aplikasi Pendeteksi Dini Pencemaran Air  serta Resirkulasi dan Distribusi Dissolve Oxygen

Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO) dapat dirancang melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini yang dapat menentukan kebutuhan monitoring secara dini tingkat pencemaran air di suatu titik serta resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen.

Persiapan alat dan bahan adalah tahapan untuk menentukan komponen yang diperlukan dalam merakit alat monitoring secara dini tingkat pencemaran air di suatu titik serta resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen.. Alat-alat tersebut diantaranya adalah sensor O2, mikrokontroler, GSM shield, Aerator, serta komponen-komponen tambahan lainnya. Setelah dilakukan analisa kebutuhan selanjutnya adalah membuat rancangan prototype.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a.    Sensor O2
Sensor adalah peralatan yang digunakan untuk merubah suatu besaran fisik menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian listrik tertentu. Hasil pembacaan dari sensor ini akan dapat dilihat langsung melalui alat ukur beda potensial listrik (voltmeter), maupun disalurkan/dihubungkan langsung ke perangkat mikrokontroler (arduino). Dalam penelitian ini, keluaran (output) sensor dihubungkan langsung ke perangkat mikrokontroler.


b.    Arduino mikro
Karakteristik arduino mikro:
·     Mikrokontroler Atmega32U4
·     Catu daya 5 volt
·     Tegangan input (rekomendasi) 7-12 volt
·     Arus DC setiap pin 20 mA
·     Flash memory 32 KB
·         EEPROM 1 KB
·         Clock speed 16 MHz
·         Panjang 48 mm
·         Lebar 18 mm
·         Berat 13 g


c.    GSM shield
GSM Shield merupakan modul yang dapat dipasang ke mikrokontroler Arduino mikro agar dapat menerima/mengirim SMS, menerima/membuat panggilan suara dan komunikasi data GPRS dengan terlebih dahulu memasangkan SIM card operator pada GSM shield-nya. Spesifikasi GSM Shield yaitu :
· Catu daya 5 volt dari mikrokontroler
· Frekuensi GSM850MHz dan GSM900MHz

d.    Mobile Android
Hasil pembacaan sensor O2 akan ditampilkan pada layar mobile. Terdapat satu sistem yang setiap kali dapat menunjukkan kadar oksigen yang terlarut. Dan jika jumlah oksigen terlarut dalam air tersebut menunjukkan angka dibawah angka 5 ppm sebagai batas minimal, maka android akan menampilkan pada notifikasi. Sehingga tanpa membuka program hasil pembacaan sensor, petugas akan mengetahuinya. Kemudian memberitahukan kepada masyarakat terkait bahwa air telah tercemar.

e.    Aerator
Aerator adalah sebuah mesin penghasil gelembung udara yang gunanya adalah menggerakkan air di pertambakan agar airnya kaya akan oksigen terlarut yang mana sangat dibutuhkan oleh semua ikan air tawar dan air laut. Prinsip kerja aerasi adalah membuat kontak antara air dan oksigen yaitu dengan penambahan oksigen ke dalam air sehingga oksigen terlarut di dalam air akan semakin tinggi dengan cara memperluas areal permukaan yang kontak dengan udara. Mencampurkan air yang beroksigen tinggi dengan air yang beroksigen rendah.

Penambahan oksigen ke dalam air melalui beberapa tahap antara lain sebagai berikut: 1. Transfer oksigen ke gas liquid interface atau gas (udara ini menyentuh lapisan permukaaan air). 2. Gas atau oksigen memotong pada permukaan film (lapisan air). 3. Gas atau oksigen masuk ke dalam badan air.

Kemudian tahapan pembuatan sistem monitoring secara dini tingkat pencemaran air melalui aplikasi android agar dapat mengirim pesan pembacaan kadar oksigen secara otomatis yang selanjutnya user dapat melakukan permintaan untuk memberi perlakuan tertentu di tambak untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut.
Berikut merupakan gambar skema integrasi antar perangkat keras dan perangkat lunak pada ASQUDO (Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen):

Gambar 3. Skema Integrasi Antar Perangkat Keras dan Perangkat Lunak

Konsep dan Mekanisme Kerja Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO)

Penguasaan teknologi sensor ini sangat diperlukan mengingat aplikasinya yang terus berkembang dan kebutuhan sensor khususnya sebagai alat deteksi ataupun pemantauan di dalam negeri masih diimpor, salah satunya adalah sebagai deteksi atau pemantauan kualitas air di pertambakan.

Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO) memiliki banyak manfaat diantaranya adalah dapat memberi peringatan dini kepada masyarakat akan adanya pencemaran air sehingga masyarakat bisa waspada serta memberi peringatan pada pemilik usaha tambak mengenai kadar oksigen terlalur yang ada pada tambak. Selain itu, ASQUDO merupakan resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen di pertambakan. Sehingga petani tambak dapat mengetahui kondisi aktual dari tambak yang dikelolanya melalui mobile phone, dan memungkinkan petani tambak untuk mengelola tambaknya dari rumah.

Dibawah ini merupakan skema integrasi antara sensor dan android yang mungkin terjadi. Namun dalam perangkat ini difokuskan pada output berbasis mobile via SMS. Alasannya adalah karena GSM Shield (via SMS) memiliki jangkauan yang luas tanpa batas. Jadi dimanapun user berada, sensor akan tetap mengirimkan pesan kondisi kadar O2 terlarut.

Micro Controller
Mobile (Via bluetooth)
komputer
Mobile via SMS
Mobile via wifi
Sensor Dissolved Oxigen (DO)
Gambar 4. Skema integrasi antara sensor dan android











Selanjutnya dijelaskan terkait langkah kerja sensor sesuai dengan bagan dibawah ini.


           












Gambar 5. Langkah Kerja Sensor

Media pendukung dalam perangkat ini adalah mobile android. Konten aplikasi yang terdapat dalam ASQUDO tidak dapat dipisahkan. Perangkat ASQUDOini didukung oleh antarmuka arduino.

Kemudian bagan dibawah ini menjelaskan alur dan langkah pembuatan software ASQUDO.apk.

















Gambar 6. Alur Pembuatan Software





Pihak yang Dipertimbangkan Dapat Membantu Mengimplementasikan Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO)

Pihak-pihak yang dapat  membantu mengimplementasi Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO) antara lain:
a.    Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Berperan dalam membuat peraturan mengenai batas normal air yang aman digunakan.
b.    Ahli lingkungan dan ahli perancangan alat
Ahli lingkungan dan ahli perancangan alat membantu dalam perancangan perangkat aplikasi ASQUDO.
c.    Dinas Perikanan Kota Malang
Dinas Perikanan Kota Malang berperan dalam mensosialisasikan dan memantau penggunaan ASQUDO.
d.    Pemerintah
Pemerintah dapat berperan aktif dalam melegalkan, mensosialisasikan, serta memberikan dana untuk mengimplementasikan ASQUDO.
e.    Masyarakat
Masyarakat berperan dalam penggunaan ASQUDO.

4.      Kesimpulan
Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO) merupakan representasi perangkat aplikasi monitoring tingkat pencemaran air berdasarkan sensor O2. Aplikasi ini berbasis android pada Mobile dimana hasil pembacaan sensor akan divisualisasikan langsung pada layar Mobile dan dapat dihubungkan dengan Aerator untuk menjaga resirkulasi dan distribusi dissolve oxygen di pertambakan

Auto-Stabilizer System of Quality Dissolve Oxygen (ASQUDO) dapat dirancang melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini yang dapat menentukan kebutuhan monitoring secara dini tingkat pencemaran air di suatu titik. Tahap pertama yaitu persiapan alat, kemudian perancangan dengan pembuatan sistem sensor, selanjutnya pembuatan software aplikasi ASQUDO.apk dan terakhir pengintegrasian antar keduanya. 

Penelitian ini bertujuan untuk memelihara kadar air terlarut dalam tambak dengan menggunakan teknologi yang sesuai. Hipotesa yang penulis tawarkan merupakan gagasan yang akan menjadi sebuah terobosan baru dalam penanggulangan pencemaran air khususnya di Indonesia
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu terselesaikannya karya ini: Kedua Orang Tua , yang senantiasa memberi dorongan dan do’a restunya; Bapak Nugroho Adi Pramono selaku dosen yang memberikan bimbingan kepada penulis untuk mendiskusikan permasalahan yang kami angkat; Tsania Nur Diyana, M. Ilham Nurhakim, dan Eka Imbia Agus Diartika sebagai peneliti awal sekaligus telah memberikan bimbingan atas karya tulis ilmiah ini; dan Teman-teman UKM Al-Quran Study Club (ASC), sahabat pembinaan Karya Tulis Ilmiah Al-Quran (KTIA) Universitas Negeri Malang dan semua pihak yang membantu terselesaikannya karya ini.
Daftar Pustaka
1.        Alamendah. 2010. Pencemaran Air di Indonesia. (Online, http://alamendah .org /2010/08/ 01/ pencemaran-air-di-indonesia/, diakases pada tanggal 8 Desember 2015).
2.        Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
3.        Badan Pusat Statistik 2004
4.        Cahyaningsih, Andriati & Budi Harsoyo. 2010. Distribusi Spasial Tingkat Pencemaran Air di Das Citarum. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca. Vol. 11, No. 2. Hal 1-9
5.        Debataraja, Aminuddin, Robeth V. Manurung, & Hiskia dkk. 2011. Mikrotranduser Deteksi Kadar Oksigen Terlarut Aplikasi Monitoring Kualitas Air. Jurnal Ilmiah Elite Elektro. Volume 2. No. 2. Hal 73-78.http://tentangarduino.blogspot.co.id/2014/09/macam-macam-arduino-iniakan-saya.html (12 Maret 2015)
6.        Departement of Primary Industries and Resources of South Australia. 2003. Water Quality in Fresh Aquaculture Ponds. http://www.pir.sa.gov.au/data/ assets/pdffile/0008/34001/watqual.pdf.22/08/09.p3
7.        Fujaya, Yasintha. (2002). Fisiologi Ikan. Makasar: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
8.        Free Encyclopedia. 2009.Hypoxia (Environmental). http://en.allexperts.com/e/h/hy/hypoxia (environmental).htm. 10/20/09. P.1
9.        Kementerian Lingkungan Hidup RI tahun 2001
10.    Mahasri, G. 2006. Diktat Manajemen Kualitas Air. Program Studi S-1 Budidaya Perairan. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya. Hal 29
11.    Maulana, reza. 2015. Membuat Project ANDROID di ANDROID Studio. (http://teknorial.com/membuat-project-android-di-android-studio/) diakses tanggal 12 Maret 2016.
12.    Mukti, A.T., Muhammad A., dan Woro H. 2003. Diktat Kuliah Dasar-Dasar Akuakultur. Program Studi S-1 Budidaya Perairan. Fakultas Kedokteran Hewan. Universiras Airlangga, Surabaya. Hal 47-52.
13.    National Geographic. 2016. Air Sungai di Indonesia Tercemar Berat. (http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/air-sungai-di-indonesia-tercemar- berat) diakses tanggal 27 September 2017.
14.    Oktovani, Yusuf, Arief Andy Soebroto, & Aswin Suharsono.  Sistem Pengendalian Suhu Dan Kelembaban Berbasis Wireless Embedded System
15.    PP no 82 tahun 2001 pasal 8
16.    Punaji, Setyosari. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta : Kencana.
17.    Rachmadi, Didi & Karlisa Priandana. Sistem Monitoring Ketinggian Air Melalui SMS Berbasis Mikrokontroler Arduino Uno.  http://apps.cs.ipb.ac.id/ojs/files/journals/3/articles/294/submission/review/294-748-1-RV.pdf
18.    Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 – 46.
19.    Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (Do) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator untuk Menentukan Kualitas Perairan. Oseana. Volume XXX. Nomer 3. Hal 21-26.
20.    Sari, Rohita. 2002. Strategi Pengembangan Budidaya Tambak di Kabupaten Tegal. Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai. Semarang: Universitas Diponegoro.
21.    Schramm. 1997. The oxygen Factor (in pond). http://www.hedley.ca/oxygen2.htm. 10/04/09. 5p.
22.    Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
23.    Syahid. 2012. Rancang Bangun Robot Beroda Berbasis Android Menggunakan Komunikasi USB. JTET. Vol. 1. Hal 33-42.


0 komentar:

Posting Komentar